Sebuah Potret Perempuanku

0

Oleh :

Raida Bastian

(Guru di Kota Pangkalpinang)

 

Bertandang aku di senja hari

pada kompleks perumahanmu yang sunyi

setelah bertahun-tahun kupintal rindu

untuk datang bertandang

Setangkai mawar merekah

dan rangkaian doa kusembah

untukmu yang setia mengusir gundah

menyisir tepian pagi menuju waktu berganti petang

 

Kubayangkan lagi seribu doamu menggebu

kurasakan kembali desah panjangnyanyian istighfar

menghalau polah kami yang teramat bingar

lirih suaramu masih mengental menyenandungkan sholawat

menghantarkan diri tidak jadi pecundang

hadap dilema dunia yang garang

 

Kopyor susumu telah mengakar

menghantarkan aku untuk melangkah tegar

menerobos ganasnya cemeti hidup

agar cahaya diri tak sampai meredup

 

Engkau adalah potret perempuan tangguh

yang senantiasa jinakkan jiwa yang gaduh

di usiamu yang separuh sepuh

belum dapat kuganti peluhmu dengan sedikit saja payahku

 

 

Senja ini kembali sepi,

remangnya terbang mengambang

tuk berjumpa bias bintang ataucahaya perak rembulan

aku hanya mampu bersimpuh pada pusara

dan mengusap nisan dingin

pada kerinduanku

akan nilai juangmu  yang menggantang

menghantarkan mimpiku gapai angkasa

dalam ridho sucimu nan bercampur air syahdu

dan  rindu ini tak akan pernah berhenti

membasuh kenangan tentang  sebuah potret perempuanku,

beristirah di pangkuan bumi, sepi.

 

 

Air Paoh, 7 Maret 2023

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Ada yang bisa kami bantu bro/sis ?