Sebuah Potret Perempuanku
Oleh :
Raida Bastian
(Guru di Kota Pangkalpinang)
Bertandang aku di senja hari
pada kompleks perumahanmu yang sunyi
setelah bertahun-tahun kupintal rindu
untuk datang bertandang
Setangkai mawar merekah
dan rangkaian doa kusembah
untukmu yang setia mengusir gundah
menyisir tepian pagi menuju waktu berganti petang
Kubayangkan lagi seribu doamu menggebu
kurasakan kembali desah panjangnyanyian istighfar
menghalau polah kami yang teramat bingar
lirih suaramu masih mengental menyenandungkan sholawat
menghantarkan diri tidak jadi pecundang
hadap dilema dunia yang garang
Kopyor susumu telah mengakar
menghantarkan aku untuk melangkah tegar
menerobos ganasnya cemeti hidup
agar cahaya diri tak sampai meredup
Engkau adalah potret perempuan tangguh
yang senantiasa jinakkan jiwa yang gaduh
di usiamu yang separuh sepuh
belum dapat kuganti peluhmu dengan sedikit saja payahku
Senja ini kembali sepi,
remangnya terbang mengambang
tuk berjumpa bias bintang ataucahaya perak rembulan
aku hanya mampu bersimpuh pada pusara
dan mengusap nisan dingin
pada kerinduanku
akan nilai juangmu yang menggantang
menghantarkan mimpiku gapai angkasa
dalam ridho sucimu nan bercampur air syahdu
dan rindu ini tak akan pernah berhenti
membasuh kenangan tentang sebuah potret perempuanku,
beristirah di pangkuan bumi, sepi.
Air Paoh, 7 Maret 2023