Makalah “MEMBANGUN LITERASI INFORMASI PERPUSTAKAAN”

MAKALAH

“MEMBANGUN LITERASI INFORMASI PERPUSTAKAAN”

 

 

  

Disusun Oleh :

ADIN MALAJI, AMD

 

 

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

BAB II PEMBAHASAN

  1. LITERASI INFORMASI
  2. PENDIDIKANPEMAKAI PERPUSTAKAAN SARANA MEMBANGUN MASYARAKAT LITERASI
  3. LITERASI INFORMASI BAGI PUSTAKAWAN
  4. LITERASI INFORMASI BAGI PENGGUNA PERPUSTAKAAN

BAB III PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA

 

BAB I

Pendahuluan

 

Informasi merupakan sebuah entitas yang berpotensi untuk menjadi sebuah kekuatan sekaligus sumber kebingungan bagi banyak orang. Setiap hari kita ditantang untuk berhadapan dengan informasi yang melimpah ruah dan melaju dengan kencang, dalam berbagai format yang terhitung pula jumlahnya. Keterampilan dasar dalam melek informasi yang tidak lain adalah kemampuan untuk mengakses, mengevaluasi dan menggunakan informasi dari berbagai sumber secara efektif, menjadi sebuah keahlian yang teramat penting dan harus dikuasai oleh semua pihak baik pustakawan maupun pengguna.

Selanjutnya untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan, solusi yang tepat adalah segera akses ke perpustakaan merupakan alternatif sebagai sarana mendukung literasi informasi tersebut. Padahal seseorang yang datang ke perpustakaan juga dihadapkan pada berbagai sumber informasi yang beraneka macam bentuk dan kemasannya. Selanjutnya yang terpenting adalah bagaimana kita dituntut untuk mengambil keputusan yang benar dan tepat dengan sumber informasi yang tersedia di perpustakaan, sehingga dapat dipercaya dan dapat dipertanggungjawabkan sumbernya.

Selain itu keputusan yang kita ambil akan menjadi baik tergantung pada bagaimana informasi itu bisa kita peroleh secara tepat. Akhir-akhir ini kita sering mendengar istilah literasi informasi (information literacy). Literasi informasi dapat diistilahkan juga dengan istilah ’melek informasi’. Bahkan di berbagai pertemuan/forum ilmiah juga sering didiskusikan mengenai literasi informasi ini. Oleh karena itu, dalam rangka menanggapi kebutuhan informasi yang semakin berkembang dan kompleks serta untuk berpartisipasi aktif dalam masyarakat informasi, maka kita memerlukan adanya literasi informasi sebagai proses pembelajaran seumur hidup.

Saat ini di perpustakaan sebagai sarana pendukung literasi informasi ada banyak sekali sumber media yang bisa kita akses. Misalnya: perpustakaan selain menyediakan media cetak yang berupa buku, jurnal, majalah, surat kabar, juga menyediakan media noncetak seperti radio, televisi, internet maupun berbagai jenis bentuk multimedia lainnya. Perpustakaan dan literasi informasi merupakan dua hal yang berkaitan satu sama lain. Maksudnya bahwa literasi informasi tidak akan sempurna tanpa kehadiran perpustakaan yang memadai. Namun pernahkah kita sadari bahwa keberadaan perpustakaan yang menyediakan berbagai informasi mengenai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu ternyata membawa dampak yang sangat positif dan sangat membantu literasi informasi bagi masyarakat.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. LITERASI INFORMASI

Konsep literasi informasi Pertama kali di perkenalkan oleh Paul Zurkoweski (President information Association) pada tahun 1974, ketika ia mengajukan sebuah proposal kepada the national Commission on Libraries and information Science (NCLIS),USA. Zurkoweski menulis:

“People trained in the aplication of information resources to the work can be called information literate. They have learned techniques and skill for utilizing the wide range of information tools as well as primary sources in molding information solutions to their problems”

Merujuk pada tulisannya dapat di artikan orang-orang yang dilatih dalam mengaplikasikan sumber-sumber informasi untuk pekerjaan mereka dapat disebut dengan information literate (terpelajar dalam memanfaatkan informasi), mereka belajar teknik dan kemampuan dalam memanfaatkan keluasan perangkat informasi sebagaimana pemanfaatan sumber utama dalam mencari pemecahan masalah yang dihadapi.

Beberapa pandang yang berkaitan dengan jenis literasi, yaitu literacy yang berkaitan dengan melek huruf, oral literacy ketidakpahaman isi yang disampaikan, technology literacy teknologi yang digunakan untuk mendukung literasi, kemudian aliteracy yang menggambarkan ketidak membacaan masyarakat. Munculnya beberapa istilah yang berhubungan dengan literasi karena beberapa faktor :

Pertama, dilihat dari aspek bahasa. Penggunaan beberapa istilah literasi, merupakan cara yang digunakan untuk memudahkan dalam menggambarkan atau memaknai terhadap istilah tersebut mengenai makna yang terkandung dalam.

Kedua, dilihat dari aspek estimologi. Dimana perkembangan atau asal muasal istilah literasi merupakan suatu rangkian yang muncul dari istilah yang satu yang pada akhirnya digunakan untuk memaknai istilah yang lainnya.

Ketiga, dilihat dari aspek budaya. Beberapa istilah literasi menunjukan tingkat atau strata suatu masyakat. Dimana tingkat literasi digunakan untuk menggambarkan tingkat peradaban masyarakat suatu bangsa.

Pemahaman literasi informasi sampai saat ini belum ada istilah baku yang menjadi kesepakatan para ahli informasi. Banyak istilah yang digunakan untuk memahami literasi informasi, misalnya dengan pengertian “melek huruf”. Putu Laxman Pendit mengartikan literasi informasi sebagai keberaksaraan. Doyle (1994) dalam Saad (2006), mendeskripsikan information literate: “Person as one who; recognizes that accurate and complete information is the basis for intelligent decision making, recognizes the need for information, formulates questions based on information need, identifies potential sources of information, develops successful search strategies, accesses sources of information including computer-based and other technologies, evaluates information, organizes information for practical application, integrates new information into an existing body of knowledge, uses information in critical thinking and problem”.

Hepworth (1999) dalam Irawati (2005) mendefinisikan information literacy sebagai proses memperoleh pengetahuan terhadap perilaku dan keahlian dalam bidang informasi, sebagai penentu utama dari cara manusia mengeksploitasi kenyataan, membangun hidup, bekerja, dan berkomunikasi dalam komunitas informasi. Sehingga dari beberapa definisi tersebut dapat dikatakan bahwa literasi informasi kemampuan seseorang untuk mengenali informasi yang dibutuhkan dan kemampuan untuk menemukan letak informasi tersebut, kemudian mengevaluasi dan juga mampu menggunakan informasi tersebut secara efektif.

 

  1. PENDIDIKANPEMAKAI PERPUSTAKAAN SARANA MEMBANGUN MASYARAKAT LITERASI

Masyarakat yang memiliki literasi informasi adalah masyarakat yang telah mengerti, menyadari, memahami, dan menggunakan tulisan (bacaan dan sumber informasi). Dengan kata lain, selain mempunyai budaya lisan/ tutur yang telah dibawa sejak turun-temurun, ratusan bahkan ribuan tahun. Mereka telah mengembangkan budaya baca dan tulis (Sutarno NS, 2006). Masyarakat yang memiliki budaya baca tinggi harus terus diimbangi dengan penyediaan fasilitas seperti perpustakaan dan bahan bacaan yang memadai sesuai kebutuhan masyarakat (Priyanto, 2007). Hingga tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk menjadi pemburu informasi dan ”melek informasi” dalam memenuhi kebutuhannya.

Keberadaan perpustakaan sangat diharapkan untuk dapat berperan sebagai agen pengembangan modernisasi masyarakat (Kartosedono, 1995). Kondisi semacam itu hanya bisa ditemui dalam masyarakat yang memiliki budaya baca tinggi. Keberadaan perpustakaan tidak akan berpengaruh dalam masyarakat yang memiliki budaya baca rendah.

Perpustakaan sebagai sumber informasi peran yang dilakukan dalam membangun masyarakat literasi, menurut Ratna (2006) dalam Suciati (2007) ada beberapa cara yang dapat dilakukan:

  • pengguna hendaknya diberikan wawasan apa saja fasilitas dan koleksi serta informasi yang tersedia di perpustakaan;
  • untuk mengurangi tekanan pengguna dalam menemukan informasi hedaknya perpustakaan selalu menyelenggarakan user education secara berkala, terutama apabila selalu ada penambahan layanan dan fasilitas;
  • pengguna diberikan ketrampilan dalam mengoperasikan sarana-sarana penelusuran baik manual maupun elektronik agar dapat mengakses sendiri dengan efektif;
  • disediakan panduan-panduan yang mudah dipahami pada setiap titik layanan;
  • menyediakan fasilitas yang memadai dengan memanfaatkan teknologi informasi agar lebih efektif dan efesien dalam memanfaatkan informasi;
  • menyediakan koleksi dan informasi yang sesuai dengan kurikulum serta program-program yang ada di lembaga yang bersangkutan sesuai dengan jumlah dan judul serta senantiasa mengikuti perkembangan koleksi dan informasi terbaru;
  • ditopang dengan jumlah sumber daya manusia yang memadai, berkualitas, profesional, dan santun;
  • suasana belajar yang menyenangkan, nyaman, dan aman.

 

Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk membangun literasi masyarakat pada perpustakaan. Satu diantara cara yang dapat dilakukan adalah melalui pendidikan pemakai. Menurut Hak (2008) mengutip Maskuri (1995) pendidikan pemakai atau seringkali disebut user education adalah suatu proses di mana pemakai perpustakaan pertama-tama disadarkan oleh luasnya dan jumlah sumber-sumber perpustakaan, jasa layanan, dan sumber informasi yang tersedia bagi pemakai, dan kedua diajarkan bagaimana menggunakan sumber perpustakaan, jasa layanan, dan sumber informasi tersebut yang tujuannya untuk mengenalkan keberadaan perpustakaan, menjelaskan mekanisme penelusuran informasi serta mengajarkan pemakai bagaimana mengeksploitasi sumber daya yang tersedia.

Lebih lanjut Hak (2008) mengutip pendapat Rice menjelaskan bahwa pendidikan biasanya selalu mempunyai komitmen untuk memperkuat koleksi perpustakaan dan pengajaran mengenai penggunaannya. Salah satunya adalah bagaimana memenuhi kebutuhan cara mencari informasi yang terkini dengan cepat. Maksudnya bahwa terampil menggunakan perpustakaan merupakan suatu hal yang perlu dipelajari.

Salah Satu cara yang digunakan untuk pendidikan pemakai perpustakaan adalah melalui orientasi perpustakaan. Tujuan yang ingin dicapai antara lain :

  • Mengenal fasilitas-fasilitas fisik gedung perpustakaan itu sendiri;
  • Mengenal bagian-bagian layanan dan staf dari tiap bagian secara tepat;
  • Mengenal layanan-layanan khusus seperti penelusuran melalui komputer, layanan peminjaman, dll;
  • Mengenal kebijakan-kebijakan perpustakaan seperti prosedur menjadi anggota, jam-jam layanan perpustakaan, dll.
  • Mengenal pengorganisasian koleksi dengan tujuan untuk mengurangi kebingungan pemakai dalam mencari bahan-bahan yang dibutuhkan.
  • Termotivasi untuk datang kembali dan menggunakan sumber-sumber yang ada di perpustakaan.
  • Terjalinnya komukasi yang akrab antara pemakai dengan pustakawan.

 

Sedangkan Gaunt (2007) menyebutkan pendidikan pemakai melalui orientasi perpustakaan idealnya terlebih dahulu mengetahui kebutuhan penggunanya. Setelah kebutuhan pengguna diketahui kemudian diperkenalkan bagaimana cara menggunakan dan sumber-sumber informasi yang ada di perpustakaan. Lebih lanjut Gaunt (2007) menyebutkan bahwa dalam muatan atau materi dalam orientasi perpustakaan, meliputi:

  • Mengetahui bangunan perpustakaan dan pelayananya;
  • Pengorganisasian berbagai format kolekasi yang tersedia (buku, jurnal, photocopy, tipe materi khusus lainya);
  • Letak koleksi di perpustakaan;
  • Menggunakan alat bantu penelusuran untuk menemukan daftar bacaan;
  • Proses peminjaman, perpanjangan dan pengembalian koleksi dan sistem manajemen alat bantu penelusuran;
  • Menggunakan fasilitas buku dan jurnal elektronik;
  • Menggunakan photocopy/ scanning/ printing dan peraturannya bagi pengguna.

Melalui orientasi perpustakaan tersebut sehingga penggunan perpustakaan menjadi familiar dengan perpustakaan. Sehingga dalam mencari informasi di perpustakaan tidak akan mengalami kesulitan.

 

  1. LITERASI INFORMASI BAGI PUSTAKAWAN

Literasi informasi menjadi sebuah ketrampilan pustakawan yang penting di era global saat ini, sehingga literasi informasi bagi pustakawan tidak hanya ditandai sekedar melek huruf maupun hanya sekedar bisa membaca saja. Namun sebenarnya aplikasinya lebih dari itu, karena sudah seharusnya penguasaan literasi informasi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pustakawan. Pustakawan harus menjadi manajer ilmu pengetahuan, karena setiap harinya bergelut dengan berbagai sumber informasi. Menyikapi hal ini, maka mau tidak mau pustakawan harus bisa menelusur informasi di perpustakaan baik secara manual maupun online.

Seorang pustakawan dapat dikatakan sudah melek informasi (information literate librarian), jika pustakawan tersebut telah memiliki beberapa kompetensi, yakni:

  • Pustakawan sudah sadar akan kebutuhan informasi, kemudian juga sudah tahu bagaimana caranya mengakses sumber-sumber informasi tersebut.
  • Pustakawan tersebut sudah memiliki kemampuan untuk mengenali kapan informasi itu diperlukan masyarakat.
  • Pustakawan yang sudah mampu untuk berfikir kritis dan bersikap etis dengan memberdayakan informasi yang telah dimiliki.
  • Pustakawan sudah bisa secara fasih mengetahui cara/metode yang efektif dan efisien untuk menelusur informasi serta dapat menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat penggunanya.
  • Pustakawan telah mampu menemukan, menyeleksi dan menganalisis, mengevaluasi dan mengelola, serta memanfaatkan informasi yang diperoleh sesuai dengan kaidah/aturan yang berlaku.

Saat ini pustakawan dituntut tidak hanya terampil mengurusi buku atau jenis media informasi lain. Namun dituntut bisa menguasai penelusuran literasi informasi yang menjadi sebuah terobosan baru dan tantangan ke depan bagi pustakawan dalam mengemban tugas mulia untuk mengelola informasi yang ada di perpustakaan dimana pustakawan tersebut bekerja. Dengan demikian, pustakawan harus mempunyai komitmen dengan penuh kesadaran agar dapat mengakses, memahami dan memanfaatkan informasi yang diperoleh untuk dikomunikasikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Karena peran seorang pustakawan sebagai fungsi edukasi, penyedia, penyebar dan sebagai mitra informasi.

 

  1. LITERASI INFORMASI BAGI PENGGUNA PERPUSTAKAAN

Salah satu dampak dari perkembangan teknologi informasi saat ini mengakibatkan ledakan informasi (information explosion). Artinya bahwa hampir setiap orang dari anak kecil sampai orang tua dapat menerima informasi apapun dan dari manapun tanpa batas dan filter. Selanjutnya apabila masyarakat sebagai pengguna perpustakaan cukup melek informasi, maka berbagai informasi yang melimpah tersebut akan menjadi sumber daya yang bermanfaat. Untuk itu setiap orang sangat perlu mengevaluasi informasi yang mereka terima supaya bisa memenuhi kebutuhannya akan informasi yang dicari.

Masyarakat sebagai pengguna perpustakaan harus benar-benar selektif dalam menerapkan suatu hal dari informasi yang dibaca dari sebuah buku. Kita ketahui bahwa salah satu kegiatan perpustakaan tanpa memandang jenis dan bentuk organisasi dari sebuah perpustakaan, adalah mengadakan bahan pustaka yang dimulai dari menseleksi, memilih, dan akhirnya memesan bahan pustaka. Oleh karena itu, disinilah peran perpustakaan sebagai penyaring (filter) dari berbagai macam sumber informasi yang ada. Perpustakaan harus bisa memprioritaskan buku-buku yang bisa lebih berperan dalam mengolah sumber-sumber informasi agar bernilai bagi masyarakat yang membutuhkan.

Kesimpulannya perpustakaan adalah wadah untuk mewujudkan masyarakat berinformasi. Selanjutnya dengan adanya literasi informasi yang tepat, maka akan membuat masyarakat menjadi lebih percaya diri untuk maju dan mengembangkan diri dalam mengambil keputusan dengan tepat. Menurut Association of College and Research Libraries (ACRL) dalam Information literacy competency standards for higher education orang yang memiliki keterampilan dalam literasi informasi, akan memiliki kemampuan standar sebagai berikut:

  1. a) menentukan batas informasi yang diperlukan;
  2. b) mengakses informasi yang dibutuhkan dengan efektif dan efisien;
  3. c) mengevaluasi informasi dan sumber-sumber informasinya dengan kritis;
  4. Memadukan sejumlah informasi yang terpilih menjadi dasar pengetahuan seseorang;
  5. menggunakan informasi dengan efektif untuk mencapai tujuan tertentu;

  

BAB III

PENUTUP

 

Salah satu faktor yang mempengaruhi sedikitnya jumlah pengunjung dalam memanfaatkan informasi adalah literasi informasi masyarakat dalam menggunakan perpustakaan. Literasi informasi merupakan kemampuan seseorang untuk mengenali informasi yang dibutuhkan dan kemampuan untuk menemukan letak informasi tersebut, kemudian mengevaluasi dan juga mampu menggunakan informasi tersebut secara efektif.

Oleh karena salah satu cara yang digunakan untuk membangun literai informasi di perpustakaan dengan pendidikan pemakai. Pendidikan pemakai suatu proses di man

a pemakai perpustakaan pertama-tama disadarkan oleh luasnya dan jumlah sumber-sumber perpustakaan, jasa layanan, dan sumber informasi yang tersedia bagi pemakai, dan kedua diajarkan bagaimana menggunakan sumber perpustakaan, jasa layanan, dan sumber informasi tersebut yang tujuannya untuk mengenalkan keberadaan perpustakaan, menjelaskan mekanisme penelusuran informasi serta mengajarkan pemakai bagaimana mengeksploitasi sumber daya yang tersedia.

Dalam hal ini bentuk pendidikan pemakai yang digunakan melalui oreintasi perpustakaan, yaitu pendidikan jangka pendek dalam upaya membangun pengetahun pengguna dalam menggunakan perpustakaan. Dengan muatan materinya antar lain untuk mengetahui perpustakaan dan sistem pelayanan perpustakaan, dan cara menggunakan fasilitas di perpustakaan. Sehingga dengan pendidikan pemakai ini literasi masyarakat penggunan akan baik dan familier dalam memanfaatkan informasi di perpustakaan.

 

DAFTAR PUSTAKA

http://abdulhak.multiply.com/journal/item/9/PENDIDIKAN_PEMAKAI Hak, Ade Abdul. 2008. Pendidikan Pemakai: Perubahan Prilaku Pada Siswa Madrasah Dalam Sistem Pembelajaran Berbasis Perpustakaan.

http://www.cardiff.ac.uk/insrvstaff/projectandworking/infoliteracy/conferences/lilac/lilac07/ Gaunt, Jessica. 2007. Hanbook for Information Literacy Teaching.

Irawati, Indira. 2005. Penguasaan Information Literacy Mahasiswa Program Studi Ilmu Perpustakaan, Skripsi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

Kartosedono, S. 1995. Perpustakaan sebagai Lembaga Pendidikan dan Sarana Mencerdaskan Masyarakat Bangsa . Media Pustakawan 2(20):4-5.

NS., Sutarno. 2006. Perpustakaan dan Masyarakat. Denpasar: Kongres IPI Ke-X.

Priyanto, Ida Fajar. 2007. PERPUSTAKAAN UNTUK PENGEMBANGAN MASYARAKAT : Informasi Bukan Hanya Komoditi Ekonomi. http://lib.ugm.ac.id/exec.php?app=berita&act=detail&id=66.

Sanderson, Ralph.(2006).The Role of Developed Countries to Support Information Literacy in Developing Countries. Denpasar:Kongress IPI Ke-X.

Suciati, Uminurida. 2007. Manfaat Information Literacy (Literasi Informasi) bagi Pustakawan. Media Informasi Vol. XVI, No.2, p. 10-17.

Sudarsono, Blasius, 2006. Mencari Akar Kepustakawanan Indonesia, Visi Pustaka: 8(1)

Sudiarto. 2006. Persepsi tentang Minat Baca di Indonesia. Media Perpustakaan, Volume 13, No. 1 dan 2.

Sulistyo-Basuki. 1993. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Zurkoweski, Paul. 1974. The National Commission on Libraries and Information Science. USA. h.6